Wednesday, 11 January 2012

Tentang Rumi


Kata teman saya "Semua mengenai rumi selalu menarik untuk dibahas" saya mencoba mengumpulkan beberapa informasi tentang rumi dari berbagai sumber di internet. mudah-mudahan tidak puas agar semua yang mengenai rumi selalu menarik untuk dibahas.
Jalaluddin dilahirkan 30 September 1207 di Balkh, kini wilayah Afganistan. Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi juga seorang tokoh sufi yang berpengaruh di zamannya dan sangat menentang pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran.
Rumi mengatakan, “Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasan yang dipelopori kelompok Mu’tazilah. Mereka merupakan para budak yang tunduk patuh kepada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah. Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula memanjakannya.”
Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika beliau berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi dari kota Tabriz. Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba-tiba seorang lelaki asing yakni Syamsi Tabriz–ikut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?” Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Beliau tidak mampu menjawab. Akhirnya Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, beliau mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi.

Kedekatan Rumi dan Syamsi membuat Kecemburuan warga Konya sehingga Syams pergi. Akhirnya Syams dibunuh oleh warga saat dia kembali. Rumi kehilangan terbesar yang dia gambarkan seperti kehidupan kehilangan mentari. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga beliau menjadi penyair yang sulit ditandingi.
Rumi kemudian bersahabat dengan Syaikh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, selama 15 tahun terakhir masa hidupnya beliau berhasil menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi dengan ajaran-ajaran tasawuf dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain.

Bersama Syaikh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan Thariqat Maulawiyah atau Jalaliyah. Thariqat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes atau para Darwisy yang berputar-putar karena para penganut thariqat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.

Rumi wafat Pada tanggal 5 Jumadil Akhir 672 H atau 17 Desember 1273 dalam usia 68 tahun.


SEBERAPA JAUH ENGKAU DATANG!
Sesungguhnya, engkau adalah tanah liat. Dari bentukan mineral, kau menjadi sayur-sayuran. Dari sayuran, kau menjadi binatang, dan dari binatang ke manusia. Selama periode ini, manusia tidak tahu ke mana ia telah pergi, tetapi ia telah ditentukan menempuh perjalanan panjang. Dan engkau harus pergi melintasi ratusan dunia yang berbeda.


JALAN
Jalan sudah ditandai.
Jika menyimpang darinya, kau akan binasa.
Jika mencoba mengganggu tanda-tanda jalan tersebut,
kau melakukan perbuatan setan.

TULISAN DI BATU NISAN JALALUDDIN AR-RUMI
"Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia"

Semoga belum merinding.. nah kalo mau merinding baca aja sendiri beberapa karya nya
-Matsnawi-i-Ma’anawi (Couplets of Inner Meaning).
-Fihi ma Fihi Percakapan informalnya
Silakan di search ebook nya. kalo dapet tolong saya di share...

Tuesday, 3 January 2012

Di TQN Suryalaya - Tasik Malaya

Subuh di Mesjid Ponpes Suryalaya Tasik Malaya
إلهي أنت مقصودي ورضا ك مطلوبي   أعطني محبتك ومعرفعتك
"ILAAHI ANTA MAQSHUUDII  WARIDHAAKA MATHLUUBII  A’THINII  MAHABBATAKA WAMA’RIFATAKA
“Wahai Tuhanku, Engkau lah yang aku maksud dan Ridha-Mu yang aku cari. Berilah aku kemampuan untuk bisa mencintai-Mu dan Ma’rifat kepada-Mu”

Kalimat yang selalu diucapkan selesai shalat di TQN Suryalaya, Kemudian semua memjamkan mata dan mulai berzikir LAA ILAAHA ILLALLAH… 

Gelombang suara yang keras dan ritme lamban menggema dari suara-sura pecinta dan Perindu dari depan, samping dan pantulan-pantulan dinding mesjid. rasanya terharu dan bergetar seolah-olah itu adalah kalimat yang mengantarkan kematian, seketika teringat akan segala dosa dan kebusukan diri yang masih tertutupi, karena kebusukan itu yang tahu hanyalah diri dan Allah semata
Semakin lama zikir semakin cepat dan semakin keras sambil menggerakkan kepala ke semua latifah dan dihujamkan kedalam hati dalam kenikmatan dan ekstase masing-masing. seperti  gelombang  yang datang terus-terusan sehingga terasa sendi sendi menjadi lemas sambil ikut serta larut dalam zikir sambil terus berusaha meyakinkan hati bahwa tidak ada yang dimaksudkan melainkan Allah. 
Sebuah perjalanan yang menggetarkan, Semoga bisa melembutkan dan memperbaiki hati ini yang sudah carut marut Amin
.
"Rasa hanya dapat disampaikan dengan rasa, tidak dapat diteruskan dengan huruf gambaran suara atau kata-kata melalui ujung lidah" (Prof.DR.K.H. Abubakar Atjeh, penterjemah buku Mifahus Shudur)

Terimaksih buat abang Mukhtar sudah mengantar saya ke Ponpes  Alm. K.H ahmad Shahibul wafa Tajul Arifin (Abah Anom) Suryalaya. Sungguh terasa keihklasan nya.
DOWNLOAD BUKU DAN KITAB ISLAM KLASIK CLICK DISINI