Tuesday, 28 February 2012

Tentang Cicak di Warung Kopi - Inspirasi untuk toleransi

Saya sangat menyukai kopi, saya biasa minum empat sampai enam gelas dalam sehari baik siang ataupun malam. Walaupun saya sedang tidak bekerja sepertinya saya tidak segan untuk memesan kopi hitam favorit saya, selalu saja ada teman-teman yang membayarnya ,saya juga tidak berat hati untuk membayar kopi buat teman-teman saya kalau saya sedang kelebihan rezeki. Tempat minum kopi saya bukanlah di kafe, tapi ini hanyalah sebuah warung kopi tradisional yang tidak ada dinding dan sangat terbuka. Kalau sedang tidak bekerja saya bisa duduk ber jam-jam lamanya bahkan bisa sampai larut malam, pulang satu teman datang lagi teman yang lainnya. Mereka yang mempunyai kesibukan pekerjaan biasanya ngumpul sore sampai malam hari, bahkan ada juga yang mencuri-curi waktu untuk sekedar memesan segelas kopi disela-sela pekerjaan nya. Jadilah warung kopi itu sebagai tempat kami selalu berkumpul dan bercerita banyak hal, termasuk lowongan pekerjaan dan peluang usaha. Jadi jangan lah menganggap tongkrongan ini sia-sia. Diwarung kopi ini pula kami berkenal dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang pekerjaan. Dimulai sering melihat kemudian bertegur sapa dan selanjutnya jadilah pertemanan dan juga pertalian bisnis. Diwarung ini pula saya sering menerima informasi pekerjaan-pekerjaan. Susana menjadi lebur dan sama tujuan yakni menikmati kopi, dan kami tidak pernah menyebut diri kami sebagai komunitas peminum kopi.
Suatu ketika saya duduk didepan rumah sambil minum kopi karena keluarga membutuhkan saya dirumah, saya melihat sepasang cicak yang sedang bertengkar di plafon teras rumah, saling menggigit bagian leher dan muka. sepertinya ada yang mereka perebutkan. Entah kenapa tidak ada keinginan saya untuk melerai perkelahian itu, saya biarkan saja beberapa saat sampai mereka berhenti sendiri. Ada yang kalah salah satu diantar cicik itu karena yang kalah ternyata memilih untuk menyingkir menghindari perkelahian berlanjut.
Hal yang menarik selanjutnya ialah ternyata selang beberapa saat kemudian mereka mulai berdekatan lagi dan tidak melanjutkan perkelahian, sepertinya mereka sudah lupa dengan kejadian yang terjadi hanya beberapa menit yang lalu. mereka tidak saling mendendam, yang menang tidak merasa hebat dan terus-menerus menjajah yang kalah, sementara yang kalah pun tidak selanjutnya memikirkan cara untuk mengumpulkan kekuatan baru supaya bisa mengalahkan pemenang tadi. Ketika suatu pertikaian selesai maka selesailah perkelahaian diantara mereka.
Semua cicak modelnya sama saja, tidak ada banyak perbedaan, hanya warna kulit saja yang membedakan mereka menjadi, tapi mereka tidak menjadikan satu golongan lebih unggul dari golongan yang lain. Dan saya yakin cicak itu bertengkar bukan karena perbedaan tersebut, tetapi cenderung pada merebut jatah makanan saja. Seekor cicak merebut makanan dengan cara berkelahi adalah cara mereka, namun kita manusia tentu saja mempunyai cara-cara yang lebih santun untuk mendapatkan bagian nya. Bukankah kita meyakini bahwa semua mahkluk termasuk manusia dijamin kecukupannya oleh Allah.SWT.
  • Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi, melainkan semua dijamin oleh Allah rezekinya. Dia menegetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz) {Hud: 6}
Manusia adalah mahluk yang diciptakan sangat sempurna, tidak ada yang lebih dan kurang, semua diciptakan sangat sempurna dan berimbang. hanya yang bertaqwa sajalah yang memiliki tingkat tertinggi di mata Allah.
  • Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.{Al-Hujarat: 13}
  • Wahai manusia! Jika kamu meragukan hari kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu ari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai pada usia dewasa, dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) diantara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan (tumbuhan) yang indah. {Al-Hajj: 5}
Kalau demikian adanya apa alasan kita untuk membanggakan diri, wajah yang rupawan dan tubuh yang sempurna bukan lah hasil karya kita, karena kita sama sekali tidak mengetahui keadaan kita didalam rahim.
Begitu juga dengan kerukunan antar umat beragama, jelas sekali disebutkan bahwa Agamamu bagimu dan agamaku bagiku. Namun kenapa banyak terjadi golongan pada manusia, golongan berdasarkan agama, golongan berdasarkan ras juga golongan berdasarkan suku.
Terciptanya golongan karena adanya persamaan. Dan  perselisihan antar golongan terjadi karena ada golongan yang merasa lebih unggul dibanding dengan golongan lain. Kita harus menyadari bahwa itu harus diperbaiki oleh setiap orang, dimulai dari memperbaiki diri,  dalam keluarga dan tetangga, memperdalam keyakinan makna dalam Al-Qur'an bahwa semua manusia sama yang penciptaannya melalui proses yang sudah ditentukan-Nya.
Selanjutnya berkembang bahwa saya, lingkungan  saya, kabupaten, propinsi, suku dan negara saya sama dengan negara lain yang penduduknya juga manusia, benua saya sama dengan benua lain karena kita masih dalam satu planet bumi. Bukankah sering kita dengar perumpamaan bahwa manusia itu bagai pasir dipantai, kalau kita mencoba memahami maka kita mungkin kita akan berkata bahwa mungkin kita lebih kecil dari pasir itu. Begitu banyak ciptaan Allah yang tidak diketahui manusia, nah kalau kita tidak mengetahui bagaimanapula kita mengklaim kita yang paling berkuasa atau yang paling hebat sementara kita tidak mengetahui batasan ilmu, ketidakmengetahui ini membuat kita seperti katak dibawah tempurung. hanya Allah yang mengetahui segala sesuatu walaupun itu tersembunyi, walaupun itu hanya terlintas dalam hati, Dia yang maha Agung yang agungnya tidak terjagkau oleh manusia, karena kalau masih terjangkau belumlah dianggap agung. Sementara manusia adalah mahkluk yang tugas utama nya adalah bertaqwa kepada-Nya, berprilaku sebagai manusia dan menghormati sesama manusia karena kita adalah sama.
Hendaknya persamaan yang menciptakan golongan atau komunitas sebagai wadah untuk saling berbagi dan mengisi kekosongan, bukan menjalin kekuatan untuk mengalahkan golongan yang lain. Mestinya perbedaan-perbedaan menjadikan kita semakin kagum kepada Sang Pencipta, bukan sebaliknya menggali lagi perbedaan yang yang menjurus pada perpecahan. Semoga kita bisa lebih santun dari seekor cicak.


Alhamdulillah.

sumber gambar : youtube.com

0 comments: